Dede Farhan Aulawi, Penerapan Konsep Pertanian Produktif, Ekologis dan Berkelanjutan


BASMILAMTENG.COM, – JAKARTA. Sehebat hebatnya pembangunan fisik yang dilakukan, jika tanpa memiliki arah dan konsep yang jelas dalam merancang infrastruktur pertanian yang handal, maka akan menjadi malapetaka kemanusiaan di masa yang akan datang. Coba saja bayangkan, jika kita punya rumah, mobil atau tabungan, tetapi tidak memiliki kecukupan pangan untuk dimakan, apa yang terjadi ? apa masih ada manfaatnya uang dan kendaraan, jika tidak ada bahan untuk dimakan ? Disinilah pentingnya pertanian untuk masa depan ketahanan pangan nasional. Lalu kemudian apa masih ada masyarakat yang akan bertahan dengan profesi petani jika kehidupannya tidak sejahtera ? tentu lambat laun akan beralih profesi. Ini yang tentu tidak diharapkan. Oleh karena itu, tema peringatan Hari Tani Nasional yang ke 60 di hari ini, membawa tema “Sejahterakan Petani Guna Wujudkan Ketahanan Pangan Yang Mandiri”, ujar Dewan Pakar PERPADI Jawa Barat yang juga Pemerhati Ketahanan Pangan Dede Farhan Aulawi yang disampaikan dalam peringatan Hari Tani Nasional yang ke -60 di Bandung, Kamis (24/9).

 

Dia hadir bersama Tim Prawita GENPPARI ingin menyemangati para petani agar terus berjuang untuk masyarakat melalui keahlian profesinya di bidang pertanian, karena dimatanya pertanian merupakan bidang strategis dan super fundamental bagi kelangsungan umat manusia. Pada kesempatan tersebut, Dede sempat menerima berbagai penjelasan dari para petani terkait berbagai permasalahan yang masih dihadapi oleh para petani. Masalah – masalah tersebut sebenarnya bukan masalah yang baru, karena hampir setiap tahun sebelumnya juga sama. Di samping masalah ketersediaan lahan dan kesejahteraan, juga masalah kepemilikan (hak garap) yang seringkali ada klaim dari pihak tertentu sehingga menimbulkan kegelisahan para petani. Belum lagi masalah lainnya, seperti benih, pupuk, pemasaran, ancaman gagal panen, anjloknya harga akibat banjir komoditas impor, dan lain – lain.

 

Pada kesempatan tersebut, Dede juga menyampaikan pentingnya penerapan konsep pertanian yang produktif (modern), ekologis dan berkelanjutan. Pertanian modern pada dasarnya merupakan sistem pertanian yang menggunakan peralatan canggih dalam pelaksanaannya, misalnya penggunaan peralatan seperti traktor untuk membajak sawah. Termasuk modernisasi dalam hal cara penanaman, perawatan tanaman hingga pemanenan. Penanaman dalam pertanian modern tidak dilakukan secara manual, tetapi menggunakan mesin transplanter. Keuntungannya adalah menanam padi akan lebih cepat, begitu juga dengan masa pemanenan yang akan semakin singkat dengan inovasi pupuk modern.

 

Kemudian Dede juga menyampaikan bahwa keunggulan komparatif seperti iklim tropis dan kegemburan tanah yang membuat Indonesia mampu memproduksi komoditas ekspor seakan – akan belum termanfaatkan secara optimal. Apalagi kebanyakan sektor pertanian masih dijalankan secara tradisional, artinya belum dijalankan dengan manajerial yang profesional. Hal tersebut bisa ditandakan dengan ketiadaan informasi pasar yang akurat, peralatan pertanian memadai, luasan lahan, dan perlengkapan mengelola stok. Hal inilah yang bisa menimbulkan harga anjlok saat panen melimpah, atau gagal panen yang menimpa para petani. Untuk itulah merumuskan roadmap kesejahteraan petani menjadi sangat penting dalam mewujudkan perekonomian berbasis pertanian.

 

Dari sekian permasalahan pertanian yang tadi sudah kita kompulir, ada beberapa hal fundamental yang bisa kita jadikan masukan untuk Pemerintah khususnya yang memiliki tugas dan tanggung jawab di bidang pertanian. Seca prinsip kami menilai bahwa petani merupakan pelaku utama dalam pembangunan pertanian Indonesia dan mereka memiliki peran penting untuk menghasilkan produk pertanian yang berkualitas guna memenuhi kebutuhan pangan masyarakat Indonesia. Untuk itulah sudah selayaknya di hari yang berbahagia untuk seluruh petani Indonesia ini, kami menyampaikan Selamat Hari Tani Nasional yang ke -60, semoga seluruh petani Indonesia bisa lebih sejahtera. Aamiin YRA ” , pungkas Dede mengakhiri keterangan. (RED/FPRN)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *